Jumat, 26 Februari 2021

Tafsir Maudhu’i | Manusia dalam Tilikan Al-Qur’an


          Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang paling banyak mendapatkan porsi untuk dibahas di dalam Al-Qur'an. Hal ini tidak mengherankan karena Al-Qur'an 
memang diturunkan  sebagai petunjuk bagi umat manusia. Al-Qur’an berbicara tentang manusia mulai dari asal muasal penciptaan hingga bagaimana tempat kembali terakhirnya. Di samping itu, melalui kitab suci al-Qur'an Allah SWT  tentunya telah memberikan arahan dan panduan agar manusia lulus dari segala bentuk cobaan dan hiruk pikuk problem kehidupan sehingga selamat hingga akhirat kelak.

Dalam tulisan kali ini, penulis akan mencoba menjelaskan bagaimana Al-Qur'an menerangkan tentang apa itu manusia dan bagaimana seharusnya ia menjalani kehidupan. Begitu banyak ayat Al-Qur'an yang berbicara perihal manusia, namun penulis tidak akan membahas semuanya, hanya beberapa hal penting saja yang harus kita ketahui bersama.

Kita akan memulai dari apa dan bagaimana pengertian “manusia” itu sendiri. Pakar ilmu bahasa Arab, Ibnu Faris dalam kamus Maqayis Al-Lughah menerangkan kata “manusia” yang dalam bahasa Arab disebut “Al-Insan” adalah sebuah kata yang berasal dari tiga huruf inti yaitu hamzah, nun, dan sin. Susunan tiga huruf tersebut bermakna “ad-Dhuhur” yang berarti “Muncul atau tampak”. Kata terambil dari kata dasar “Al-Insu” sebagai antonim kata “Al-Jin” yang berarti tidak nampak. Pakar bahasa lain, Ar-Raghib Al-Asfihani menjelaskan kata “Al-Insan” berasal dari kata dasar “al-Ansu” yang berarti jinak sebagai lawan kata dari buas. Selain dua pendapat di atas, pendapat lain diungkapkan oleh Ibnu Abbas bahwa “Al-insan” Berasal dari kata “An-Nisyan” yang berarti lupa. Hal ini dikarenakan manusia adalah makhluk yang pernah terikat sebuah janji kepada Allah namun mereka lupa akan janji tersebut.

Adapun pengertian “manusia” secara terminologi, banyak sekali ulama yang memberikan pandangannya. Salah satu yang masyhur adalah pengertian “manusia” menurut Abu Al-Hasan Al-Asy'ari dalam Maqalat Al-Islamiyyin yang menjelaskan bahwa salah satu pengertian “manusia” menurut istilah adalah sebuah entitas yang terdiri dari ruh dan badan. Melengkapi pengertian ini, Al-Jurjani dalam At-Ta'rifat menjelaskan “manusia” adalah sebuah entitas hidup yang berakal (Al-Hayawan An-Nathiq) sebagai pembeda dengan makhluk Allah lainnya yang hidup dalam jasad tanpa disertai akal pikiran.

Di dalam Al-Qur'an sendiri, sebagai salah satu tema terbesar yang dibahas, kata “Al-Insan” dan bermacam kata turunannya disebutkan sebanyak 97 kali. Adakalanya yang dimaksudkan dengan kalimat “manusia” ini adalah nabi Adam AS sebagai bapak umat manusia seperti dalam surat Al-Mu'minun ayat 12:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ ۚ

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah”

Dan adakalanya yang dimaksudkan adalah umat manusia secara umum sebagaimana dalam surat An-Naziat ayat 35:

يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ مَا سَعٰىۙ

“Yaitu pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya”

Bahkan pada kesempatan lain, kata “manusia” disebutkan untuk menunjuk person tertentu semisal Abu Jahal seperti dalam surat Al-'Alaq ayat 6:

كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓ ۙ

“Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas”

Selain menggunakan kata “Al-Insan”, penyebutan “manusia” di dalam Al-Qur'an juga menggunakan istilah lain yang masing-masing memiliki karakteristik dan detail makna yang berbeda. Salah satunya adalah istilah “Al-Basyar” yang disebut dalam Al-Quran sebanyak 35 kali untuk menyebutkan manusia dalam konteks makhluk yang memiliki karakteristik materiil seperti umumnya manusia seperti makan, minum, pergi ke pasar dan lain sebagainya. Dalam hal ini para rasul dan nabi disebut sebagai Al-Basyar karena tidak ada beda dengan manusia pada umumnya dalam konteks humanis materiil. Ada pula kalimat lainnya, adalah kata “Al-Anam” yang disebutkan dalam surat Ar-Rahman ayat 10 untuk merujuk pada arti manusia dan juga jin. Selain dua yang telah disebutkan masih ada istilah lain dalam Al-Qur’an seperti Bani Adam, An-Nas, dan Al-Insu yang masing-masing perlu penelaahan mendalam untuk memahami konteks penggunaan kalimatnya.

Hal penting yang perlu disampaikan di sini adalah mengenai tujuan dan fungsi penciptaan manusia itu sendiri. Sebagian kita memahami bahwa penciptaan manusia adalah hanya untuk beribadah semata sebagaimana disebutkan di dalam surat Ad-Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”

Padahal apabila kita telaah ayat-ayat lainya, kita juga menemukan bahwa mausia diciptakan dalam rangka “Al-Isti’mar” atau tugas untuk memakmurkan bumi sebagaimana disebut dalam surat Hud ayat 61:

وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًا ۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗهُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ ۗاِنَّ رَبِّيْ قَرِيْبٌ مُّجِيْبٌ

“dan kepada kaum samud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya).”

Para ulama mendefinisikan kata “Al-Isti’mar” sebagai bentuk memakmurkan bumi dengan cara membangun, menanam, ataupun kegiatan lainnya agar tercipta kehidupan yang layak di muka bumi sehingga terbangun peradaban yang maju dan tentunya sesuai dengan ketentuan dan tuntunan dari petunjuk Nabi SAW.

Ketika manusia sudah mengetahui fungsi dan tujuan dari penciptaannya, manusia juga harus menyadari akan karakteristik dan kelemahannya agar bisa terhindar dari perangkap dalam dirinya sendiri. Allah SWT di dalam Al-Qur’an menjelaskan beberapa sifat naluriah manusia seperti sifat lemah (Surat An-Nisa ayat 28), tergesa-gesa (Surat Al-Isra ayat 11), suka berdebat (Surat Al-Kahf ayat 54), Pelit (Surat Al-Isra’ ayat 100), cinta dunia (Surat Al-Adiyat ayat 8), dan sederet karakteristik negatif lainya seperti suka mengeluh, zalim, bodoh, dan lain sebagainya. Namun demikian, penyebutan sederet karakteristik ini bukan dalam rangka melemahkan tabiat manusia dan menjauhkan dari optimisme, melainkan agar manusia bisa menyiasati supaya dirinya tidak terlampau jauh dari tujuan utama penciptaannya, ibadah dan memakmurkan bumi.

Pada dasarnya manusia juga sangat berkemungkinan mendapatkan rahmat dan anugerah Alah SWT sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk berputus asa. Selagi kita senantiasa meluruskan niat dan akidah kita kemudian memperbaiki semua amal kita, niscaya dua hal itulah yang akan menjadi kunci kebahagiaan dunia dan akhirat sebagaimana disampaikan oleh Grand Syeikh Al-Azhar, Prof. Dr. Syeikh Ahmad Muhammad al-Thayyib dalam sebuah ceramahnya.

Demikian pembahasan singkat kali ini. Semoga kita bisa menjadi manusia yang mampu menunaikan dua tugas besar kita di dunia dengan baik, dan kita berharap semoga senantiasa diberikan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya. Amiin..

Wallahu A’lam bis Shawab. 

Bogor, Februari 2021

Jumat, 29 Januari 2021

Tafsir Maudhu’i | Moderasi dalam Tilikan Al-Qur’an


           Al-Qur’an diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW sebagai pedoman dan petunjuk hidup bagi umat manusia agar sampai pada kebahagiaan di dunia yang sementara dan yang abadi di akhirat kelak. Namun demikian, ada sedemikian proses yang harus ditempuh untuk sampai kepada petunjuk Al-Qur’an tersebut, dan proses inilah yang oleh para ulama disebut sebagai tafsir Al-Quran, sehingga pada akhirnya petunjuk Al-Qur’an tidak bisa serta merta didapatkan hanya dengan membaca Al-Qur’an secara sederhana. Tafsir sendiri merupakan sebuah disiplin ilmu yang ditujukan untuk memahami Al-Quran dengan segenap daya dan upaya orang yang berhak melakukannya.

Dalam disiplin ilmu Al-Qur’an ada beragam jenis metode menafsirkan Al-Qur’an yang ditempuh para ulama, salah satu yang sering digunakan adalah metode maudhui’/tematik. Usaha penafsiran ini bertujuan untuk memberi gambaran lengkap bagaimana Al-Qur’an memandang sebuah tema tertentu yang akan dibahas. Ayat demi ayat yang memiliki tema identik akan dikumpulkan kemudian dikaji secara komprehensif sampai pada kesimpulan yang utuh tentang tema tersebut. Hal ini begitu penting mengingat Al-Qur'an dengan segenap kemukjizatannya memiliki keunikan tersendiri dalam hal susuan bagian demi bagiannya. Sebuah tema yang identik bisa saja kita temukan pembahasannya di beberapa tempat yang berbeda dalam Al-Qur’an.

Seiring dengan perkembangan informasi yang begitu cepat dan instan, tafsir maudhui’ semakin menemukan signifikansinya. Masyarakat terbiasa membaca ataupun menerima informasi yang sepotong-sepotong tanpa mau melihat lebih dalam apa yang ia terima. Misalkan saja ketika beberapa istilah Al-Qur’an seperti amar makruf nahi munkar, jihad, dan moderat yang seakan menjadi khas dan milik kelompok tertentu saja. Padahal, istilah-istilah tersebut merupakan term universal Al-Qur’an yang konsep dan gambaran utuhnya berhak dibaca, dikaji, dan diterapkan oleh semua pihak asal sesuai dengan porsi idealnya.

Dalam seri tulisan kali ini penulis akan mencoba memotret beberapa tema penting dalam kehidupan kita menggunakan lensa tafsir maudhu'i secara ringkas dan sederhana. Harapannya kita bisa melihat secara lebih utuh dan adil terhadap fenomena dan berbagai term di kehidupan kita yang pada akhirnya Al-Qur’an jua lah yang menjadi pedoman dan petunjuknya.

Term pertama yang akan dibahas dalam seri tulisan ini adalah “Moderasi”. Barangkali kita sering mendengar kalimat ini sebagai term positif yang menegasikan istilah “ekstremisme” dan “intoleransi” atau bahkan “radikal” dan “terorisme”. Moderasi beragama juga digadang-gadang sebagai jargon pemerintah kita dalam hal ini Kementerian Agama Republik Indonesia dalam mengejawantahkan nilai-nilai agama di kehidupan masyarakat kita yang heterogen dan plural ini.

Kata moderasi sendiri secara sederhana merupakan alih bahasa dari bahasa Arab “Al-Wasathiyah” yang merupakan salah satu derivasi dari akar kata “wa-sa-tha” yang berarti adil, seimbang, dan berada di antara dua kutub yang berseberangan. Selain itu kata ini juga bermakna “pilihan” atau “yang terbaik” dalam bahasa Indonesia. Dari kata dasar inilah maka muncul beberapa kata turunannya yang bisa kita temukan di beberapa ayat Al-Qur’an seperti halnya di surat Al-Baqarah ayat 143, Al-Qolam ayat 28 , dan Al-‘Adhiyat ayat 5.

Dalam perkembangan kajian selanjutnya kata ini memiliki korelasi erat dengar berbagai kata lain di dalam bahasa Arab seperti kata Al-Ghuluw dan Al-Ifrath yang keduanya merupakan negasi dari kata Al-Wasathiyah karena bermakna melampau batas atau berlebihan pada sesuatu, sebagaimana kata “At-Tafrith” juga merupakan negasinya karena bermakna sangat kurang dari sesuatu. Sedangkan kata yang beriring sejalan dengan Al-Wasathiyah adalah “As-Shirath Al-Mustaqim” karena bermakna jalan yang lurus atau tegak dan tidak belok.

Dari pengertian di atas bisa ditarik beberapa pandangan umum tentang moderasi di alam Al-Qur’an seperti halnya “keadilan” yang merupakan tafsiran dari kata “Wasathan” dalam surat Al-Baqarah ayat 143 menurut At-Thabari dalam tafsirnya. Dalam berbagai ayat, keadilan dijadikan sebagai salah satu pokok ajaran agama yang tidak hanya berlaku terhadap teman melainkan juga adil terhadap lawan seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Maidah ayat 8. Selain itu, ada pula term “Al-Hikmah”, “Al-Istiqamah”, “At-Taisir” dan “Raf’u al-haraj” yang berarti asas kemudahan dalam agama Islam yang semuanya merupakan pandangan umum dari moderasi yang terjelaskan di berbagai ayat Al-Qur’an.

Adapun pada tataran praksis, moderasi tercermin dalam beberapa hal, di antaranya dalam aqidah, ibadah, etika, dan muamalah atau pergaulan kita dengan sesama muslim bahkan dengan lain agama yang semuanya memiliki pedoman yang tertuang dalam berbagai ayat Al-Qur’an dan bisa dijelaskan satu persatu pada tempatnya sehingga memberikan perspektif yang sangat luas dan ideal dalam kehidupan beragama kita, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial yang hidup berdampingan satu sama lain dengan segenap perbedaan dalam banyak hal.

Demikian pembahasan ringkas tentang moderasi dalam tilikan Al-Qur’an ini agar menjadi pembuka wawasan kita terhadap konsep Islam yang universal dan ideal jika bisa dipahami dan dikontekstualisasikan dalam kehidupan kita yang sedang penuh tantangan ini. Semoga kita selalu diberikan kesehatan dan keselamatan oleh Allah SWT.

Wallahu A’lam bis Shawab.


Bogor, Januari 2021

Kamis, 02 Agustus 2018

Seleksi Tahap Akhir (Interview by Phone)

Sekian lama sudah selama libur di Indonesia saya tidak aktif di blog. Beberapa artikel belum kesampaian saya tulis, beberapa komen belum sempat saya balas. Padahal saya bayangkan saat liburan di Indonesia ini akan jauh lebih aktif di blog, justru malah sebaliknya. Ada saja acara ataupun kegiatan yang mengalihkan perhatian dari blog ini. 

So, maafkan yaa, khususnya bagi beberapa teman yang akhirnya memilih chat langsung kepada saya via Instagram dan Facebook karena terlalu lama menunggu artikel tentang bagaimana cara melewati seleksi tahap akhir, atau interview by phone. Dan akhirnya saya harus menjawab mereka satu persatu tentang garis besar gambaran berlangsungnya interview tersebut.

Secara garis besar, interview by phone adalah seleksi tahap ke dua (tahap akhir) untuk mendapatkan beasiswa Qatar Foundation. Setelah teman-teman dinyatakan lolos dalam seleksi berkas (tahap pertama), teman-teman akan langsung diberikan detail kapan akan ditelepon langsung oleh pihak kampus untuk melakukan interview. Hari, tanggal, jam akan diberitahukan melalui email. Biasanya interview ini dilaksanakan satu sampai dua minggu setelah pengumuman hasil seleksi berkas.

Selanjutnya, setelah mendapatkan jadwal interview, tugas teman-teman adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin supaya bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan sehingga mendapatkan hasil terbaik.

Base on the experience, saat persiapan dulu saya banyak membaca artikel-artikel di internet yang membahas tentang tips dan trik melewati interview, kemudian saya rangkum point-point pentingnya, saya praktikkan dan alhamdulillah interview berjalan dengan lancar. Kuncinya adalah persiapkan diri semaksimal mungkin, jangan malas untuk mencari tahu tips dan trik melewatinya, dan tentunya jangan lupa selalu berdoa.

Sedikit bocoran tentang test interview yang saya lewati waktu lalu, durasi interview hanya sekitar 5 menit, tidak lama. Pertanyaannya seputar background pendidikan, skripsi yang ditulis, kegiatan saat ini, dan beberapa pertanyaan umum tentang ilmu jurusan yang kita apply.

Oh iya, dan jangan lupa dalam interview ini yang akan teman-teman hadapi adalah dosen atau profesor yang memang ahli di bidangnya, biasanya mereka adalah kepala jurusan yang kalian apply, tapi mereka baik-baik dan ramah kok, so jangan tegang dan keep calm. Jawab dengan lugas, tidak bertele-tele, be humble and be confident.

Terakhir, kemampuan bahasa teman-teman juga akan dinilai dalam interview ini. So, pastikan kalian sudah latihan terlebih dahulu dengan teman atau dengan diri sendiri, supaya bahasa Arab atau Inggris kalian tidak belepotan ketika interview nanti. 

Nerveus sedikit ga masalah, wajar. Asal jangan sampai mengganggu performa terbaik kalian. 
keep trying and good luck.

Indonesia, 3 Agustus 2018.

Kamis, 15 Maret 2018

Arah Haluan Pendidikan Islam di Qatar

"Belajar Islam sih di Qatar.", kalimat bernada nyinyir semacam ini yang diungkapkan oleh sebagian orang memang tidak sepenuhnya benar dan tidak juga sepenuhnya dapat disalahkan. Karena memang pada kenyataannya Qatar tidak begitu diperhitungkan sebagai pusat pendidikan agama Islam seperti halnya dengan Mesir, Saudi, Sudan, Maroko ataupun Yaman yang sudah masyhur sebagai tempat belajar ilmu-ilmu Islam. Namun di sini lah kiranya sikap adil dan objektif kita dalam memberikan sebuah penilaian perlu diterapkan sehingga kalimat bernada justifikasi dan generalisasi seperti di atas tidak perlu terlontarkan. 

Menurut saya, Indonesia sekalipun, meski secara historis tidak diperhitungkan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan Islam, apakah patut kita katakan "Jangan belajar Islam di Indonesia"?, Tentu saja kita tidak setuju dengan kalimat tersebut karena nyatanya ada banyak institusi dan lembaga pendidikan di Indonesia yang diperhitungkan sebagai tempat unggulan untuk mempelajari ilmu-ilmu​ Islam. Begitu pula Qatar, dengan segenap usaha dan komitmennya, saat ini Qatar sedang terus berusaha menjadikan sektor pendidikan sebagai big project untuk pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia yang unggul, baik dalam bidang ilmu pengetahuan umum dan tentunya ilmu pengetahuan dalam bidang keislaman. 

Salah satu bentuk konkret komitmen Qatar dalam mengembangkan sektor pendidikan misalnya bisa kita lihat dari dibangunnya sebuah kawasan pendidikan modern yang mengintegrasikan 9 kampus ternama dunia dalam satu kawasan dengan berbagai fasilitas di dalamnya yang bertaraf internasional. kawasan ini disebut sebagai kawasan Education City (EC). Kawasan ini didirikan oleh Qatar Foundation (QF), sebuah lembaga non profit terbesar di Qatar yang dipimpin langsung oleh Shaikha Moza bint Nasser, Istri dari Sheikh Hamad bin khalifa, mantan Emir Qatar, dan ibunda dari Sheikh Tamim bin Hamad, orang nomor satu di Qatar saat ini.

Lalu kemana kah arah haluan pendidikan Islam di Qatar?

Meskipun berbatasan langsung dengan Saudi Arabia, Qatar secara jelas mengambil haluan yang berbeda dari Saudi Arabia yang cenderung lebih konservatif dalam hal pengajaran keilmuan Islam, meskipun tidak sepenuhnya demikian. Qatar menyadari bahwa Islam yang dibutuhkan saat ini adalah Islam yang modern, dan berani dalam berinovasi dalam rangka menjawab tantangan zaman sehingga Islam bisa masuk ke semua lini kehidupan yang saat ini semakin kompleks, dengan tentunya tidak meninggalkan nilai-nilai dasar agama Islam.

Prinsip Qatar yang seperti ini bisa kita lihat salah satu bentuk praktiknya ketika Hamad bin khalifa University (HBKU), sebuah universitas besar Islam yang didirikan pada tahun 2010 milik Qatar Foundation lebih memilih mendirikan program jurusan yang bernuansa Islam kekinian seperti program jurusan Contemporary Quranic Studies, Contemporary Fiqh, Islamic Finance, Islamic Thought and Applied Ethics, Comparative Religions, dan Islamic Civilization and Societies ketimbang program jurusan Islam yang bernuansa klasik dan konservatif. 

Namun pada akhirnya, institusi pendidikan hanyalah sebuah sarana, dan yang terpenting dari itu semua adalah semangat dan gairah para akademisi yang ada di dalamnya untuk terus maju, berkembang, berinovasi, dan bersaing secara sehat dalam rangka membimbing umat ke arah yang tentunya lebih baik di tengah gempuran budaya negatif barat yang kian mengkhawatirkan.

*Doha, 15 Maret 2018

Rabu, 13 Desember 2017

Jumlah Mahasiswa Indonesia di Qatar

Jumlah mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang menempuh pendidikan di negara Qatar masih terbilang sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mahasiswa Indonesia yang berada di negara Arab lainnya seperti Mesir, Saudi, Sudan, dan lain sebagainya. Selain karena peluang beasiswa pendidikan di Qatar yang masih sangat sedikit, kerja sama pemerintah Qatar dengan pemerintah Indonesia juga belum terjalin dalam bidang pendidikan.
Saat ini mahasiswa Indonesia yang ada di Qatar bisa dikategorikan berdasarkan jalur keberangkatan mereka dari Indonesia :
1.       Mahasiswa  program kursus bahasa Arab di Qatar University
Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Universitas Darussalam Gontor (UNIDA) adalah dua instansi yang sejak lama sudah memiliki MoU dengan Qatar University dalam bidang pengembangan pembelajaran bahasa Arab. Setiap tahunnya dua instansi ini selalu mengirimkan dua duta mahasiswanya ke Qatar University (QU) untuk mengikuti program kursus bahasa Arab selama dua semester dengan sistem beasiswa. Selain mendapatkan tempat tinggal dan materi kursus bahasa Arab yang disesuaikan dengan level kemampuan pesertanya, mahasiswa program ini juga mendapatkan akomodasi dari QU setiap bulan. Mereka belajar bersama dengan puluhan mahasiswa dari berbagai negara non Arab yang sama-sama menjalin MoU dengan QU dalam bidang pengembahangan bahasa Arab.
2.       Mahasiswa Qatar Foundation
Berbeda dengan kategori pertama, mahasiswa Indonesia di Qatar Foundation (QF) berangkat secara mandiri dari Indonesia tanpa ada MoU dari kampus asal mereka di Indonesia dengan kampus tujuan di Qatar. Rata-rata dari mereka adalah hasil seleksi dari sekian banyak tahap tes penerimaan beasiswa S2 di QF. Seperti yang sudah saya jelaskan di artikel sebelumnya, setiap tahun QF membuka peluang beasiswa full bagi mahasiswa non Qatar yang ingin melanjutkan studi S2 nya di QF, baik di Hamad bin Khalifa University (HBKU) ataupun di kampus lainnya yang masih ada di bawah naungan QF. Fasilitas beasiswa ini juga tidak kalah menarik dengan beasiswa program kursus bahasa Arab di QU. Saat ini (Desember 2017) ada 4 mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi S2 di QF dengan beasiswa, dan ada beberapa lainnya yang manempuh studi S1 di QF namun non beasiswa.
3.       Mahasiswa Indonesia yang sudah lama menetap di Qatar
Berbeda lagi dengan kategori-kategori sebelumnya, mereka ini adalah masyarakat Indonesia yang sudah lama tinggal di Qatar untuk bekerja, atau ada keluarga mereka yang bekerja di Qatar sehingga mereka berkesempatan untuk kuliah di Qatar. Mereka tersebar di QU ataupun di QF, baik di jenjang S1 atau pun juga S2. Dan kebanyakan mereka kuliah dengan biaya mandiri atau non beasiswa.
Nah dari ketiga kategori di atas, ada beberapa kesimpulan yang bisa  kita ambil, antara lain:
1.       Hampir semua mahasiswa di Indonesia yang ada di Qatar datang melalui jalur beasiswa, baik jalur beasiswa kategori 1 ataupun 2.
2.       Belum ada peluang beasiswa S1 baik di Qatar University ataupun di Qatar Foundation.
3.       Biaya kuliah secara mandiri atau non beasiswa di Qatar tergolong mahal sehingga mahasiswa Indonesia yang datang melalui jalur mandiri sangat minim.
4.       Dengan jumlah mahasiswa Indonesia yang masih sangat sedikit dan durasi belajar mereka di Qatar yang relatif sebentar menjadi salah satu faktor belum terbentuknya Persatuan Pelajar Indonesia Qatar (PPI Qatar). 
5.       Peluang beasiswa di Qatar tetap ada khususnya untuk jenjang S2, namun cukup sulit karena koutanya yang terbatas dan persaingannya yang cukup ketat, ditambah minimnya informasinya tentang beasiswa tersebut.


*Doha, 13 Desember 2017.

Selasa, 12 Desember 2017

Peluang Beasiswa S2 Qatar Foundation 2018


       Jika di postingan sebelumnya saya sudah pernah membahas sekilas tentang jenis beasiswa S2 di Hamad bin Khalifa University (HBKU) - Qatar Foundation (QF), kali ini saya akan mencoba memberikan gambaran bagaimana cara untuk mendapatkan beasiswa tersebut mulai dari proses seleksi pemberkasan, interview, sampai pada proses keberangkatan ke Qatar. Tahap seleksi pemberkasan sendiri saat ini sudah dibuka dan akan ditutup per tanggal 1 maret 2018.
Sekilas tentang beasiswa S2 di HBKU-QF, beasiswa ini akan meng-cover semua kebutuhan kita selama dua tahun menempuh masa pendidikan S2 di Qatar, mulai dari tiket pesawat, visa, biaya kuliah, tempat tinggal beserta sejumlah fasilitasnya, transportasi, dan juga akomodasi yang diberikan untuk mahasiswa setiap bulannya.
Meskipun di kampus HBKU terdapat beberapa college atau fakultas yang tersedia, dalam postingan kali ini saya hanya akan membahas bagaimana proses mendapatkan beasiswa di College of Islamic Studies (CIS), karena college inilah yang paling banyak memberikan peluang beasiswa S2 bagi mahasiswa dari luar Qatar. Di CIS sendiri terdapat dua program jurusan yang menggunakan pengantar bahasa Arab (Contemporary Quranic Studies dan Contemporary Fiqh), dan empat program jurusan yang menggunakan pengantar bahasa Inggris (Islamic Finance, Islamic Thought and Applied Ethics, Comparative Religions, dan Islamic Civilization and Societies). Untuk info lebih lanjut mengenai college dan jurusan yang tersedia di kampus HBKU ini bisa langsung klik di sini.
Secara garis besar, selain calon pendaftar beasiswa harus memiliki track record nilai akademik yang baik dan sesuai dengan jurusan tujuan, ada dua tahapan seleksi yang harus dilalui untuk mendapatkan beasiswa HBKU-QF ini. Seleksi dimulai dari tahap seleksi berkas, dan kemudian dilanjutkan dengan Interview by phone sebagai proses seleksi tahap akhir.
Nah Untuk tahap seleksi berkas, teman-teman terlebih dahulu harus membuat akun pemohon beasiswa di website resmi HBKU. Selanjutnya dari akun inilah kalian akan mengisi form online pendaftaran beasiswa, dan meng-upload semua berkas yang diminta untuk kemudian mereka review. Untuk membuat akun pemohon beasiswa ini bisa langsung klik di sini.
Adapun berkas-berkas yang harus dipersiapkan antara lain :
1.    Ijazah dan Transkrip nilai S1 yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa    Arab/Inggris oleh penerjemah tersumpah, dan dilegalisir oleh kampus asal.
2.     Passport dengan 6 bulan minimal masa berlaku
3.     CV berbahasa Arab/Inggris
4.     Personal Statement of Interest
Personal Statement of Interest adalah sebuah narasi yang terdiri dari 300-500 kata, dan berisi tentang : Mengapa anda memilih program S2 di HBKU, bagaimana studi ini akan berkontribusi pada pencapaian tujuan pribadi anda, penghargaan apa saja yang pernah anda dapat, dan tantangan apa saja yang pernah  anda hadapi dalam karir akademik dan dunia profesional. (ditulis sesuai dengan bahasa program S2 yang dipilih).
5.     Bagi pendaftar program dengan pengantar berbahasa Inggris, anda diharuskan untuk menyiapkan bukti test TOEFL/IELST bertaraf internasional yang masih berlaku. Pihak CIS tidak mencantumkan standar minimum nilai TOEFL/IELTS yang harus dicapai sebagai persyaratan pendaftaran. Namun berhubung kuota beasiswa yang sangat terbatas dan persaingan yang ketat, maka semakin tinggi nilai TOEFL/IELST anda, peluang untuk lolos ke tahap selanjutnya pun akan semakin besar. (Syarat ini terkecuali bagi pendaftar yang bahasa pertamanya adalah bahasa Inggris, atau pendaftar yang menyelesaikan jenjang S1 di kampus yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar)
6.     Bagi pendaftar program dengan pengantar berbahasa Arab, anda diharuskan untuk melewati tes kecakapan bahasa Arab yang akan diadakan oleh pihak CIS. Info tentang tes ini akan diberitahukan kemudian oleh pihak CIS. (Syarat ini terkecuali bagi pendaftar yang bahasa pertamanya adalah bahasa Arab, atau pendaftar yang menyelesaikan jenjang S1 di kampus yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar)
7.     Surat rekomendasi (berbahasa Arab/Inggris) dari dua orang dosen atau pejabat kampus yang sudah mengenal anda dengan baik. (ber kop surat dan stampel resmi dari kampus).
Masing-masing surat rekomendasi ini harus disertai dengan satu lembar form rekomendasi yang sudah disediakan oleh CIS (bisa download di sini) yang harus diisi oleh pemberi rekomendasi. Berbeda dengan berkas-berkas lainnya, surat rekomendasi dan lembar form rekomendasi ini harus dikirim langsung melaui email pribadi pemberi rekomendasi ke alamat email HBKU : admission.cis@hbku.edu.qa
Setelah semua berkas di atas siap, maka tahap selanjutnya adalah mengisi form aplikasi pendaftaran beasiswa online melalui akun yang sudah anda buat tadi. Semua data yang diminta dalam aplikasi online harus anda isi dengan teliti dan benar. Di bagian akhir aplikasi online, anda akan diminta untuk meng-upload semua berkas yang sudah anda siapkan tadi dalam bentuk PDF. Jika semua data sudah diisi dan semua berkas sudah di-upload, maka anda tinggal menunggu hasil dari seleksi berkas yang sudah anda kirimkan.
Untuk lebih jelas tentang berkas persyaratan di atas, teman-teman bisa buka di sini. Semua penjelasan dari web berbahasa Inggris, so teman-teman bisa gunakan google translate untuk memahami penjelasan yang tertera di web.
Sekitar akhir bulan Mei pihak CIS akan mengumumkan hasil dari seleksi berkas melalui email dan akan langsung menjadwalkan interview by phone sebagai seleksi tahap akhir jika anda lolos dalam tahap seleksi berkas. Untuk membahas tentang apa saja kisi-kisi tahap interview ini, Insya Allah akan saya tulis dalam postingan selanjutnya.
Jika ada pertanyaan seputar proses pemberkasan ini silahkan teman-teman bisa langsung tanyakan di kolom komentar artikel ini, atau bisa tanyakan lebih lanjut secara langsung kepada pihak CIS melaui email : (admission.cis@hbku.edu.qa).
Pict. kampus HBKU-QF
Dari awal sampai dengan akhir proses perburuan beasiswa ini memang akan teman-teman temukan banyak tantangan yang harus dilalui, maka selain ketelitian dan kesabaran, keuletan juga sangat dibutuhkan dalam proses ini. Mengingat ada beberapa kawan yang mundur sebelum mencoba peruntungan ini karena alasan ribet dan banyak hal yang harus dipenuhi. Namun percayalah bahwa tidak akan ada pencapaian tanpa diawali dengan kerja keras dan perjuangan. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan kelancaran kepada kita semua, dan sampai jumpa di Qatar 2018.

*HBKU-QF, Doha, 12 Desember 2017.

Jumat, 18 Agustus 2017

Merayakan 17 Agustusan di Qatar





Di saat semua orang di Indonesia sedang merayakan hari kemerdekaan, memeriahkan dengan berbagai macam khas perlombaan, kami masyarakat Indonesia yang ada di Qatar pun tidak mau kalah. Ya meskipun tidak semeriah dan seheboh di Indonesia, kami tetap merayakan dan bisa mengambil hikmah di hari raya kemerdekaan.

Tepatnya kemarin petang, Kantor kedubes Indonesia yang ada di Doha mengundang seluruh warga Indonesia yang ada di Qatar untuk mengahadiri upacara 17-an yang dilanjutkan dengan lomba-lomba khas Agustusan lalu dilanjutkan lagi dengan silaturrahmi bersama Bapak dubes Indonesia. Ada juga bazar komunitas ibu-ibu Indonesia yang menjual berbagai jajanan dan makanan khas Indonesia, sekeder untuk melepas kangen makan bakso, ayam penyet, dan mie ayam. Jam 5 petang (21.00 WIB) sengaja dipilih oleh pihak Kedubes karena memang saat ini Qatar masih sedang dalam musim panas, yang jika pagi sampai siang suhunya bisa mencapai 43 derajat celcius, puanasnya.

Kami sendiri berangkat dari asrama mahasiswa Qatar Foudation pukul setengah 5 petang. Berharap akan sampai tepat waktu di kedubes pukul 5 petang, ternyata memesan taksi lewat aplikasi online tidak sesimpel dan semudah di Indonesia. Kami harus menunggu taksi yang sudah kami pesan hampir 30 menit. Akhirnya taksi pun datang dan kami berangkat bertiga bersama mahasiswa Indonesia lainnya yang sama-sama mendapatkan beasiswa di Qatar Foundation.

Setelah perjalanan 30 menit, sampailah kami di kantor kedubes Indonesia pukul setengah 6. Dan jelas saja, upacara sudah selesai tinggal melanjutkan acara foto bersama bapak dubes dan lomba-lomba Agustusan. Niat awal ingin ikut upacara, tinggal acara foto-foto yang masih tersisa.

Saat awal kami masuk ke halaman kantor kedubes, suasana khas Agustusan terasa kental. Bendera Indonesia menghiasi tembok gedung kedubes dengan berbagai pernak perniknya, masyarakat yang datang sedang sibuk selfie dengan bapak dubes, dan para staf kedubes sedang sibuk menyiapkan perlengkapan lomba. Adapun kami, bingung mau ketemu siapa dan ngobrol dengan orang yang mana, karena memang belum ada satu orang pun yang kami kenal dari sekian banyak orang Indonesia yang ada.




Ah, sama-sama orang Indonesia, pikir kami menghalau rasa segan dan canggung untuk sekedar memulai obrolan dengan bapak-bapak atau ibu-ibu bahkan staf kedubes yang kami pilih secara random. Beberapa waktu berselang, kami mulai akrab dengan suasana ini. Berbaur dengan orang-orang yang senasib jauh dari keluarga, suasana hangat dan saling sapa dengan bahasa Jawa dan sunda, serasa Qatar dan Indonesia menjadi tiada beda.

Di luar dugaan, hampir setiap orang Indonesia dan staf kedubes yang kami temui, saat mereka tau kami adalah mahasiswa, mereka ternyata heran sekaligus bangga. Hal ini karena hampir semua warga Indonesia yang ada di Qatar, mereka semua bekerja. Jadi menurut mereka, adalah hal yang luar biasa jika ada orang Indonesia ke Qatar, tapi untuk jadi mahasiswa. Apalagi karena mereka tau, biaya hidup dan kuliah di Qatar tidaklah murah, qo bisa orang Indonesia kuliah di sini. Padahal kami kuliah juga ngandelin beasiswa. Hehe

Acara berlangsung sampai jam 8 malam, suasana begitu meriah, ada yang ikut lomba, ada juga yang hanya datang sekedar merayakan, jajan, dan reuni dengan sesama warga Indonesia.

O iya, salah satu orang penting yang kami temui semalam adalah Bapak Sugeng, beliau adalah admin website https://jelajahqatar.com/, beliau asli orang Jawa yang sudah 9 tahun bekerja sebagai perawat di Qatar. Sebelum kami berangkat ke Qatar, kami banyak sekali membaca artikel dan forum diskusi di website beliau untuk sekedar mencari informasi dan hal-hal menarik lainnya tentang Qatar, ada juga informasi seputar mencari pekerjaan di Qatar.




Singkat cerita, meskipun telat merayakan kemerdekaan dan tidak semeriah di Indonesia, kami tetap merasakan atmospirenya, bahkan lebih terasa karena kami di sini satu nasib dan dalam satu perjuangan yang sama, jauh dari keluarga dan saudara. 

*Doha, 18 Agustus 2017

Tafsir Maudhu’i | Hijrah dalam Tilikan Al-Qur’an

  Kata “Hijrah” kerap kita dengar sebagai label untuk seseorang yang awalnya serampangan lalu karena sebab tertentu merubah penampilan men...