Tampilkan postingan dengan label About Qatar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label About Qatar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2018

Arah Haluan Pendidikan Islam di Qatar

"Belajar Islam sih di Qatar.", kalimat bernada nyinyir semacam ini yang diungkapkan oleh sebagian orang memang tidak sepenuhnya benar dan tidak juga sepenuhnya dapat disalahkan. Karena memang pada kenyataannya Qatar tidak begitu diperhitungkan sebagai pusat pendidikan agama Islam seperti halnya dengan Mesir, Saudi, Sudan, Maroko ataupun Yaman yang sudah masyhur sebagai tempat belajar ilmu-ilmu Islam. Namun di sini lah kiranya sikap adil dan objektif kita dalam memberikan sebuah penilaian perlu diterapkan sehingga kalimat bernada justifikasi dan generalisasi seperti di atas tidak perlu terlontarkan. 

Menurut saya, Indonesia sekalipun, meski secara historis tidak diperhitungkan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan Islam, apakah patut kita katakan "Jangan belajar Islam di Indonesia"?, Tentu saja kita tidak setuju dengan kalimat tersebut karena nyatanya ada banyak institusi dan lembaga pendidikan di Indonesia yang diperhitungkan sebagai tempat unggulan untuk mempelajari ilmu-ilmu​ Islam. Begitu pula Qatar, dengan segenap usaha dan komitmennya, saat ini Qatar sedang terus berusaha menjadikan sektor pendidikan sebagai big project untuk pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia yang unggul, baik dalam bidang ilmu pengetahuan umum dan tentunya ilmu pengetahuan dalam bidang keislaman. 

Salah satu bentuk konkret komitmen Qatar dalam mengembangkan sektor pendidikan misalnya bisa kita lihat dari dibangunnya sebuah kawasan pendidikan modern yang mengintegrasikan 9 kampus ternama dunia dalam satu kawasan dengan berbagai fasilitas di dalamnya yang bertaraf internasional. kawasan ini disebut sebagai kawasan Education City (EC). Kawasan ini didirikan oleh Qatar Foundation (QF), sebuah lembaga non profit terbesar di Qatar yang dipimpin langsung oleh Shaikha Moza bint Nasser, Istri dari Sheikh Hamad bin khalifa, mantan Emir Qatar, dan ibunda dari Sheikh Tamim bin Hamad, orang nomor satu di Qatar saat ini.

Lalu kemana kah arah haluan pendidikan Islam di Qatar?

Meskipun berbatasan langsung dengan Saudi Arabia, Qatar secara jelas mengambil haluan yang berbeda dari Saudi Arabia yang cenderung lebih konservatif dalam hal pengajaran keilmuan Islam, meskipun tidak sepenuhnya demikian. Qatar menyadari bahwa Islam yang dibutuhkan saat ini adalah Islam yang modern, dan berani dalam berinovasi dalam rangka menjawab tantangan zaman sehingga Islam bisa masuk ke semua lini kehidupan yang saat ini semakin kompleks, dengan tentunya tidak meninggalkan nilai-nilai dasar agama Islam.

Prinsip Qatar yang seperti ini bisa kita lihat salah satu bentuk praktiknya ketika Hamad bin khalifa University (HBKU), sebuah universitas besar Islam yang didirikan pada tahun 2010 milik Qatar Foundation lebih memilih mendirikan program jurusan yang bernuansa Islam kekinian seperti program jurusan Contemporary Quranic Studies, Contemporary Fiqh, Islamic Finance, Islamic Thought and Applied Ethics, Comparative Religions, dan Islamic Civilization and Societies ketimbang program jurusan Islam yang bernuansa klasik dan konservatif. 

Namun pada akhirnya, institusi pendidikan hanyalah sebuah sarana, dan yang terpenting dari itu semua adalah semangat dan gairah para akademisi yang ada di dalamnya untuk terus maju, berkembang, berinovasi, dan bersaing secara sehat dalam rangka membimbing umat ke arah yang tentunya lebih baik di tengah gempuran budaya negatif barat yang kian mengkhawatirkan.

*Doha, 15 Maret 2018

Rabu, 13 Desember 2017

Jumlah Mahasiswa Indonesia di Qatar

Jumlah mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang menempuh pendidikan di negara Qatar masih terbilang sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mahasiswa Indonesia yang berada di negara Arab lainnya seperti Mesir, Saudi, Sudan, dan lain sebagainya. Selain karena peluang beasiswa pendidikan di Qatar yang masih sangat sedikit, kerja sama pemerintah Qatar dengan pemerintah Indonesia juga belum terjalin dalam bidang pendidikan.
Saat ini mahasiswa Indonesia yang ada di Qatar bisa dikategorikan berdasarkan jalur keberangkatan mereka dari Indonesia :
1.       Mahasiswa  program kursus bahasa Arab di Qatar University
Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Universitas Darussalam Gontor (UNIDA) adalah dua instansi yang sejak lama sudah memiliki MoU dengan Qatar University dalam bidang pengembangan pembelajaran bahasa Arab. Setiap tahunnya dua instansi ini selalu mengirimkan dua duta mahasiswanya ke Qatar University (QU) untuk mengikuti program kursus bahasa Arab selama dua semester dengan sistem beasiswa. Selain mendapatkan tempat tinggal dan materi kursus bahasa Arab yang disesuaikan dengan level kemampuan pesertanya, mahasiswa program ini juga mendapatkan akomodasi dari QU setiap bulan. Mereka belajar bersama dengan puluhan mahasiswa dari berbagai negara non Arab yang sama-sama menjalin MoU dengan QU dalam bidang pengembahangan bahasa Arab.
2.       Mahasiswa Qatar Foundation
Berbeda dengan kategori pertama, mahasiswa Indonesia di Qatar Foundation (QF) berangkat secara mandiri dari Indonesia tanpa ada MoU dari kampus asal mereka di Indonesia dengan kampus tujuan di Qatar. Rata-rata dari mereka adalah hasil seleksi dari sekian banyak tahap tes penerimaan beasiswa S2 di QF. Seperti yang sudah saya jelaskan di artikel sebelumnya, setiap tahun QF membuka peluang beasiswa full bagi mahasiswa non Qatar yang ingin melanjutkan studi S2 nya di QF, baik di Hamad bin Khalifa University (HBKU) ataupun di kampus lainnya yang masih ada di bawah naungan QF. Fasilitas beasiswa ini juga tidak kalah menarik dengan beasiswa program kursus bahasa Arab di QU. Saat ini (Desember 2017) ada 4 mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi S2 di QF dengan beasiswa, dan ada beberapa lainnya yang manempuh studi S1 di QF namun non beasiswa.
3.       Mahasiswa Indonesia yang sudah lama menetap di Qatar
Berbeda lagi dengan kategori-kategori sebelumnya, mereka ini adalah masyarakat Indonesia yang sudah lama tinggal di Qatar untuk bekerja, atau ada keluarga mereka yang bekerja di Qatar sehingga mereka berkesempatan untuk kuliah di Qatar. Mereka tersebar di QU ataupun di QF, baik di jenjang S1 atau pun juga S2. Dan kebanyakan mereka kuliah dengan biaya mandiri atau non beasiswa.
Nah dari ketiga kategori di atas, ada beberapa kesimpulan yang bisa  kita ambil, antara lain:
1.       Hampir semua mahasiswa di Indonesia yang ada di Qatar datang melalui jalur beasiswa, baik jalur beasiswa kategori 1 ataupun 2.
2.       Belum ada peluang beasiswa S1 baik di Qatar University ataupun di Qatar Foundation.
3.       Biaya kuliah secara mandiri atau non beasiswa di Qatar tergolong mahal sehingga mahasiswa Indonesia yang datang melalui jalur mandiri sangat minim.
4.       Dengan jumlah mahasiswa Indonesia yang masih sangat sedikit dan durasi belajar mereka di Qatar yang relatif sebentar menjadi salah satu faktor belum terbentuknya Persatuan Pelajar Indonesia Qatar (PPI Qatar). 
5.       Peluang beasiswa di Qatar tetap ada khususnya untuk jenjang S2, namun cukup sulit karena koutanya yang terbatas dan persaingannya yang cukup ketat, ditambah minimnya informasinya tentang beasiswa tersebut.


*Doha, 13 Desember 2017.

Jumat, 18 Agustus 2017

Merayakan 17 Agustusan di Qatar





Di saat semua orang di Indonesia sedang merayakan hari kemerdekaan, memeriahkan dengan berbagai macam khas perlombaan, kami masyarakat Indonesia yang ada di Qatar pun tidak mau kalah. Ya meskipun tidak semeriah dan seheboh di Indonesia, kami tetap merayakan dan bisa mengambil hikmah di hari raya kemerdekaan.

Tepatnya kemarin petang, Kantor kedubes Indonesia yang ada di Doha mengundang seluruh warga Indonesia yang ada di Qatar untuk mengahadiri upacara 17-an yang dilanjutkan dengan lomba-lomba khas Agustusan lalu dilanjutkan lagi dengan silaturrahmi bersama Bapak dubes Indonesia. Ada juga bazar komunitas ibu-ibu Indonesia yang menjual berbagai jajanan dan makanan khas Indonesia, sekeder untuk melepas kangen makan bakso, ayam penyet, dan mie ayam. Jam 5 petang (21.00 WIB) sengaja dipilih oleh pihak Kedubes karena memang saat ini Qatar masih sedang dalam musim panas, yang jika pagi sampai siang suhunya bisa mencapai 43 derajat celcius, puanasnya.

Kami sendiri berangkat dari asrama mahasiswa Qatar Foudation pukul setengah 5 petang. Berharap akan sampai tepat waktu di kedubes pukul 5 petang, ternyata memesan taksi lewat aplikasi online tidak sesimpel dan semudah di Indonesia. Kami harus menunggu taksi yang sudah kami pesan hampir 30 menit. Akhirnya taksi pun datang dan kami berangkat bertiga bersama mahasiswa Indonesia lainnya yang sama-sama mendapatkan beasiswa di Qatar Foundation.

Setelah perjalanan 30 menit, sampailah kami di kantor kedubes Indonesia pukul setengah 6. Dan jelas saja, upacara sudah selesai tinggal melanjutkan acara foto bersama bapak dubes dan lomba-lomba Agustusan. Niat awal ingin ikut upacara, tinggal acara foto-foto yang masih tersisa.

Saat awal kami masuk ke halaman kantor kedubes, suasana khas Agustusan terasa kental. Bendera Indonesia menghiasi tembok gedung kedubes dengan berbagai pernak perniknya, masyarakat yang datang sedang sibuk selfie dengan bapak dubes, dan para staf kedubes sedang sibuk menyiapkan perlengkapan lomba. Adapun kami, bingung mau ketemu siapa dan ngobrol dengan orang yang mana, karena memang belum ada satu orang pun yang kami kenal dari sekian banyak orang Indonesia yang ada.




Ah, sama-sama orang Indonesia, pikir kami menghalau rasa segan dan canggung untuk sekedar memulai obrolan dengan bapak-bapak atau ibu-ibu bahkan staf kedubes yang kami pilih secara random. Beberapa waktu berselang, kami mulai akrab dengan suasana ini. Berbaur dengan orang-orang yang senasib jauh dari keluarga, suasana hangat dan saling sapa dengan bahasa Jawa dan sunda, serasa Qatar dan Indonesia menjadi tiada beda.

Di luar dugaan, hampir setiap orang Indonesia dan staf kedubes yang kami temui, saat mereka tau kami adalah mahasiswa, mereka ternyata heran sekaligus bangga. Hal ini karena hampir semua warga Indonesia yang ada di Qatar, mereka semua bekerja. Jadi menurut mereka, adalah hal yang luar biasa jika ada orang Indonesia ke Qatar, tapi untuk jadi mahasiswa. Apalagi karena mereka tau, biaya hidup dan kuliah di Qatar tidaklah murah, qo bisa orang Indonesia kuliah di sini. Padahal kami kuliah juga ngandelin beasiswa. Hehe

Acara berlangsung sampai jam 8 malam, suasana begitu meriah, ada yang ikut lomba, ada juga yang hanya datang sekedar merayakan, jajan, dan reuni dengan sesama warga Indonesia.

O iya, salah satu orang penting yang kami temui semalam adalah Bapak Sugeng, beliau adalah admin website https://jelajahqatar.com/, beliau asli orang Jawa yang sudah 9 tahun bekerja sebagai perawat di Qatar. Sebelum kami berangkat ke Qatar, kami banyak sekali membaca artikel dan forum diskusi di website beliau untuk sekedar mencari informasi dan hal-hal menarik lainnya tentang Qatar, ada juga informasi seputar mencari pekerjaan di Qatar.




Singkat cerita, meskipun telat merayakan kemerdekaan dan tidak semeriah di Indonesia, kami tetap merasakan atmospirenya, bahkan lebih terasa karena kami di sini satu nasib dan dalam satu perjuangan yang sama, jauh dari keluarga dan saudara. 

*Doha, 18 Agustus 2017

Tafsir Maudhu’i | Hijrah dalam Tilikan Al-Qur’an

  Kata “Hijrah” kerap kita dengar sebagai label untuk seseorang yang awalnya serampangan lalu karena sebab tertentu merubah penampilan men...